Catatan Acak | Random Notes

meski tak ada yang benar-benar acak

Desember, saatnya eksperimen baru

leave a comment »

Telah genap setahun (well, sebenarnya lebih beberapa hari), sejak kami mulai bereksperimen dengan membuka akses internet di As-Salam. Tidak banyak modal yang dibutuhkan, semuanya hanya berawal dari rasa ‘gatal’ melihat sebuah bangunan di tempat yang strategis dengan potensi yang hanya dimanfaatkan setengahnya (bahkan kurang). Terimakasih kepada istri dan saudara yang mendukung eksperimen ini sepenuh hati mereka.

Sejak awal, bukan sekedar profit yang kami target secara langsung. Sasaran utama sebenarnya adalah mencoba mempekerjakan keluarga, dan eksperimen dengan multiplier effect dari Internet. Karena alasan tersebut, saat listrik masih tidak bersahabat dan eksperimen tersebut belum mampu sustain dengan sendirinya, kami tetap memutuskan mempertahankannya. Alhamdulillah kami diberikan rizki dari tempat lain sehingga saat harus mensubsidi kekurangan biaya operasional tiap bulan, kami masih bisa melakukannya tanpa terlalu banyak hambatan.

Setelah setahun, menarik untuk melihat kembali apa yang telah dicapai. Refleksi yang cukup memberikan semangat untuk mencoba eksperimen lain, di bulan Desember ini.

Pertama, setelah genap setahun, setelah berbagai penyesuaian, dalam 3 bulan terakhir sustainability telah mulai tercapai. Sudah beberapa bulan ini kami tidak perlu mensubsidi eksperimen ini, meski 3 cashflow machine yang ada disana masih saling mensubsidi.

Kedua, saat ini eksperimen tersebut berhasil mempekerjakan 3 orang. Tidak banyak memang, dan tentu tidak besar, tapi ini adalah kontribusi nyata yang terasa sangat nikmat dan membantu saya tidur nyenyak di malam hari.

Ketiga, multiplier effect dari akses internet yang tidak saya sangka bentuknya. Sekitar 7 bulan yang lalu, istri mulai bereksperimen sendiri. Memesan barang via internet dan mengedarkannya via rekan-rekannya. Nilainya membuat saya agak kaget. Karena turnover barang yang tinggi, di bulan yang ketujuh ini dia sudah melipatgandakan modalnya hingga 4 kali lipat.  Speaking about numbers, modal yang dulu kami keluarkan untuk as-salam sudah terlampui oleh capital gain dari side-experiment istri saya ini.

Ketiga kenyataan tersebut membuat saya semakin bersemangat untuk memulai eksperimen baru kami. Ya, kami resmi memulai eksperimen baru di Bulan Desember ini. Sebuah eksperimen bernama Meong Melong. Yang pertama sudah kami lakukan, yang kedua tentu akan lebih mudah. Apalagi kami dibantu oleh sobat2 hebat kami.We’re looking a great future here, saat semakin banyak yang mendapatkan dampak positif dari eksperimen kami. Insya Allah

 

 

Written by wiendietry

12 Desember, 2010 at 20:47

Ditulis dalam cerita, hobi

So Proud of You Dad

with one comment

“Bapakmu tidak mau mengurus sertifikasi meski otomatis lolos karena usianya di atas 50 tahun.”
“Dia tidak rela berbohong untuk jumlah jam mengajarnya dalam satu minggu yang hanya 12 padahal yang disyaratkan adalah 24”
“Meski bisa mendapatkan jumlah jam mengajar sebanyak itu, Bapak tidak tega mengambil jam para guru honor yang besar pendapatannya berdasarkan jam mengajar mereka”
“Dia sudah merasa cukup, dan banyak rizki dari tempat yang lain”

Written by wiendietry

4 Juni, 2009 at 22:24

Ditulis dalam Uncategorized

OB Season I

leave a comment »

W: “Lum, nanti kalau mau ngasi makan si kucing, kasi aja ikan teri kering yang di plastik merah. Itu jatah dia, yang lain buat orang.”
U: “Iya mas”.
Beberapa saat kemudian, tercium bau ikan teri yang dimasak hingga hampir gosong.
W: “Lum, gosong ya?”
U: (sambil terkekeh) “Iya mas”.
W: “Hahaha” (tertawa lantas terpikir sesuatu)
W: “Itu buat kamu atau buat kucing?”
U : “Buat kucing mas”
W: “Buat kucing ya nggak perlu dimasak lum, kasi aja langsung” (sambil ngakak dan berpikir itu juga bagian dari kesalahannya karena suka menggorengkan telur buat si anak kucing)

Written by wiendietry

18 April, 2009 at 18:00

Ditulis dalam daily life

Tagged with

Hampir tertinggal pesawat

with 2 comments

Sabtu 7 Maret 2009,
Hari itu saya mendapatkan beberapa pelajaran berharga sekaligus.

Hari itu saya kebetulan akan berangkat menuju Lombok dengan menggunakan pesawat Garuda Airlines GA-432 melalui Jakarta dengan jadwal keberangkatan pukul 17.40 WIB. Untuk mencapai bandara Soekarno-Hatta dari Bandung, saya memesan tiket Bus Primajasa dengan keberangkatan pukul 13.00 dari BSM. Berdasarkan pengalaman saya dalam beberapa perjalanan, rata-rata perjalanan bus dari BSM ke Cengkareng adalah 3 jam perjalanan. Jadi saya menyediakan spare waktu 1 jam lebih untuk keadaan tidak terduga di jalan, spare waktu yang ternyata hampir terkuras habis pada hari itu.

Kesalahan pertama saya pada hari itu adalah saat memesan taksi untuk keberangkatan dari daerah cigadung ke BSM. Saya memesan Taksi Gemah Ripah untuk pukul 12.00 pada pukul 11.00 dan kemudian diminta mengkonfirmasi lagi setengah jam kemudian. Saat saya konfirmasi 40 menit kemudian, belum ada armada taksi tersebut yang mau melayani pesanan saya. Saya mencoba dua kali dalam kurun waktu 15 menit, tapi hasilnya tetap nihil. Lantas saya kemudian ganti menelpon Blue Bird -hal yang seharusnya saya lakukan sejak awal- , operator diseberang mengabarkan bahwa jika tidak ada armada yang menanggapi dalam 5 menit, saya akan dikabari oleh mereka (perbedaan SOP pelayanan yang tentunya sangat membantu saya). Meski demikian, saya tetap menelpon Blue Bird 5 menit kemudian dan mendapatkan kabar bahwa taksi yang akan menjemput saya sudah dalam perjalanan. Benarlah, sekitar jam 12.15 taxi pesanan saya tiba.

Kesalahan kedua saya adalah memilih rute dan kalkulasi waktu dari Cigadung ke BSM. Saya biasanya berangkat dengan penerbangan pagi, sehingga praktis saya harus berangkat dari Bandung pagi-pagi sekali setelah subuh. Biasanya dengan rute Pahlawan-Katamso saya dapat sampai di BSM dalam waktu 20 menit. Saat itu siang hari, dan hari sabtu. Saya menghabiskan waktu 45 menit hanya untuk menembus kemacetan antara Pahlawan-Katamso, dan sampai di BSM pukul 13.20. Telat 20 menit dari tiket bus saya. Untungnya saya masih sempat berangkat dengan bus pukul 13.30 dengan membayar denda sebesar 15 ribu.

Kesalahan ketiga adalah asumsi bahwa perjalanan BSM-CGK hanya akan menyita waktu selama 3 atau maksimal 3,5 jam . Sekali lagi ini hari sabtu long weekend pada siang bolong, hanya untuk mencapai pintu tol dari BSM, bus yang saya tumpangi sudah menghabiskan waktu 40 menit. Sayapun mulai ketar-ketir. Dengan asumsi perjalanan menghabiskan waktu 4 jam -sebagaimana sempat diutarakan penumpang lain di belakang saya-, saya akan tiba di Bandara pada pukul 17.30, 10 menit sebelum keberangkatan pesawat saya. Dan mestinya, jika benar saya tiba pada waktu tersebut, petugas check-in tidak perlu melayani saya. Sampai di sekitar Bekasi, saya semakin panik di dalam hati (secara fisik yang terlihat hanya gerakan garuk-garuk kepala yang kebetulan baru saja dicukur habis). Kami terperangkap macet parah selama lebih dari setengah jam akibat kombinasi pelebaran ruas jalan dan kecelakaan kendaraan di daerah itu. Memasuki gerbang tol bandara, jam di bus sudah menunjukkan pukul 17.15. Saya makin pasrah, namun tidak ingin begitu saja menyerah. Saya lantas bangkit dari tempat duduk dan menanyakan jam keberangkatan pesawat semua penumpang di bus. Mereka ternyata berangkat paling cepat pada pukul 18.00. Saya kemudian meminta ijin dari mereka agar bus terlebih dahulu mampir di terminal II. Alhamdulillah mereka semua mengijinkan.

Singkat cerita (bagian lari tergopoh-gopoh diskip), saya tiba di depan check-in counter kira-kira 10 menit sebelum pesawat berangkat. Check-in counter untuk GA-432 pada saat itu sudah ditutup dan penumpang sudah mulai boarding ke dalam pesawat. Seharusnya menurut peraturan yang tertera pada tiket, pihak maskapai mensyaratkan saya tiba di counter check-in 45 menit sebelum keberangkatan. Jadi tidak ada kewajiban petugas disana untuk melayani saya. Saya sudah agak pasrah saat itu, dan akan sangat maklum jika akhirnya saya ditolak untuk check-in. Namun ternyata begitu mengatakan penumpang tujuan AMI pada check-in counter yang kebetulan sebenarnya sedang tidak diassign untuk melayani penumpang, bukan perdebatan dan muka masam yang saya dapatkan, melainkan sikap sigap dari petugas yang langsung meminta tiket dan bagasi saya untuk diproses. Saya sangat lega dan segera bergegas menuju ruang tunggu dan masuk ke pesawat. Di atas pesawat saya baru memperhatikan, ternyata saya diberikan seat kelas eksekutif. Saya lantas melakukan konfirmasi kepada purser yang bertugas saat itu karena khawatir ada kesalahan, tapi ternyata memang karena seat kelas ekonomi telah penuh saya diberikan upgrade ke seat kosong di kelas eksekutif.

Saya lantas duduk, dan teringat bahwa saya belum shalat ashar. Saat beberapa penumpang masih mengantri untuk masuk, saya kemudian menunaikan shalat sembari duduk. Begitu leganya saya saat itu. Dalam hati saya mengucapkan syukur. Sembari tersenyum, saya teringat ketika masih di Bus dan mulai panik, namun lantas menenangkan diri dan berucap dalam hati, “Sesungguhnya aku tak pernah berburuk sangka padaMu”.

Terimakasih pada Blue Bird
Terimakasih pada seluruh penumpang primajasa BSM-CGK 13.30 7 Maret 2009
Terimakasih pada Garuda Indonesia (saya sudah tulis surat pembaca di detik, sayang sepertinya ga lulus sensor, muji-muji seh)

Sekali lagi, Alhamdulillah

Written by wiendietry

19 Maret, 2009 at 21:30

Ditulis dalam daily life

Tagged with

Dibalik arti Sasak Lebung

leave a comment »

Beberapa hari yang lalu saya menanyakan arti “Sasak Lebung” ke mailing list Komunitas Sasak. Kebetulan saat itu ada semeton yang menggunakan istilah itu pada post-nya dan menggunakannya untuk menyebut mereka yang memaksakan segala hal dilombok haruslah “sasak”. Saya sendiri hampir tidak pernah lagi menggunakan istilah tersebut. Tapi dulu, ketika saya menduga bahwa istilah tersebut berarti “asli sasak” atau “tidak diragukan kesasakannya”, saya dan rekan-rekan sering menggunakannya untuk menegaskan kesasakan seseorang, atau bahkan diri saya sendiri (saya sempat menggunakan nick sasaclebunk di MIRC, dan menempel sticker bertuliskan kata yang sama di pintu kosan). Istilah itu kami anggap berarti bahwa seseorang adalah keturunan asli sasak, lahir besar di lombok, dan tentunya mahir berbahasa sasak. Tipikal rangkaian percakapan dimana kami kemudian memilih untuk menggunakan istilah tersebut biasanya seperti berikut ini.

A : “Lekan Lombok ke loq X?” (Si X orang lombok ya?)

B : “Iye wah, dengan lombok iye”. (Iya benar, dia orang lombok)

A : “Tao ke iye base sasak?” (Dia bisa berbahasa sasak?)

B : “Adooo, sasak lebung iye miq.” (Wah, dia sih jangan diragukan sasaknya)

Thus, karena merasa tidak pernah begitu mengerti baik arti istilah tersebut, dan apa yang ditawarkan semeron itu berbeda dengan apa yang selama ini samar-samar saya pahami, saya lantas menanyakannya ke mailing list, khususnya ke Tuaq Hazairin Junep yang memiliki kelebihan dalam urusan bahasa (ybs seorang polyglot, dari inggris, perancis, hingga rusia dan esperanto, plus pengetahuan mengenai bahasa sansekerta).

Benarlah, beberapa hari kemudian beliau menjawab pertanyaan tersebut secara tidak langsung dengan gaya khasnya, bercerita. Cerita yang ia mulai dengan sebuah percakapan antar pemuda yang ia dengar di Stasiun Tugu (YK) dan kemudian diakhiri dengan ulasan mengenai beberapa sebutan yang sering ditempelkan orang-orang sasak kepada rekan-rekannya.Sayang, saat tulisan ini saya publish, tulisan Tuaq Junep belum muncul di sasak.org, sehingga saya tidak bisa menyediakan linknya. (update 170209: tulisan dapat diakses di sini)

Khusus mengenai sasak lebung, beliau mengemukakan bahwa istilah ini merujuk pada karakter yang fanatik sehingga muncul sifat “pagah” namun rapuh hingga mudah diombang-ambingkan kemana saja oleh orang yang ia percayai. Beliau juga menyebutkan secara tidak langsung bahwa karakter ini sangat mudah dijumpai di tataran akar rumput bangsa sasak, dan bila dimanfaatkan dengan tepat, bisa diarahkan untuk kemajuan bangsa sasak.

Hmmm, penjelasan yang menarik Sasak lebung rupanya berkonotasi sangat negatif, dan saya sekarang harus berhati-hati dalam menggunakan istilah tersebut.

Glosarium

pagah = keras kepala, tapi tidak kritis

sasak = suku asli penghuni pulau lombok (well, istilah “suku asli” agak-agak kurang tepat sebenarnya)

Written by wiendietry

8 Februari, 2009 at 19:47

Ditulis dalam sasak

Tagged with ,

Life is tough at the Selaparang airport

with 2 comments

Jan 7th 2009

Selaparang Airport Taxi DriverHis phone rang, its a woman who called him. First I thought it was his wife. But soon the way they had the conversation clearly proven that I had the wrong assumption. When he finished with the phone, he told me with a litle grin on his face.
Adooo, taokne jak seninente lalo jeri tkw, selekene demen-demen njorak ite” (translation: “she knows that my wife is working abroad, so she tries to take the chance (to flirt) with me”).
I forced myself to smile while silently cursing his habit and then we have a nice 75 mins long chit chat about his life, from Selaparang airport to Selong.
The stereotype
He told me about his education background. A common picture of many sasak people that live in his era (he is about 40s now). Drop off from junior high school due to lack of money from his parent to support him back in the days. Became a construction labour after quitting school and then get married. His wife was turned out to be sterile and then he decided to take a second wife. Got one son and one daughter from his second wife and then divorced due to her request (he said that her second wife cant live as a second wife, implying that she expected him to divorce his first, hmm…. ironic). Now, his  oldest kid is in junior high while his second is still in elementary school.
His job
Just been a taxi driver for four days. He told me that his previous job was a “solar” (diesel fuel) tank truck driver, a decent job with a good pay (he emphasised that). Then he got fired couple months ago due to striking with his friends as they tried to demand more ransom for his laid-off fellow driver. Instead of meeting their demands, they got fired, all of them. Unemployed, he went back to work as a construction labour. It was not an adequate source of living for his family, a situation that soon forced his wife to go working abroad since 4 months ago. His son was ashamed of his job and ask him to find a job as a driver, and there he is, a taxi driver at the airport.
How much money can he earn a day? He got 20% from the total money paid by his customers throughout the day. So if I paid the taxi services 210K for a journey from Selaparang to Selong, he’ll got 42 K just for delivering me. But a customer that is travelling that far using taxi (Selong-Selaparang is about 60 km, 75 mins driving) is  like a jackpot for him. Most of the time, throughout the day, he’ll only get 4 customers and all heading to Mataram which costs only 20K, means by the end of the day he’ll only got 16K.
His hopes
His life is sure tough, but quitting or even whining is not an option. Life can be harder, he proved and lived that. His simple hope was to make sure that all his kids is able to finish high school, and find a simple decent job like shopkeeper or such.

“So, which is it, of the favors of your lord that you deny?” (QS:55)

Written by wiendietry

31 Januari, 2009 at 21:55

Ditulis dalam cerita

Tagged with , ,

Ninik, dan mereka yang kuat pada masatuanya

with one comment

Ninik mertua saya meninggal tadi pagi. Sudah sejak kamis malam ia dibawa ke rumah sakit. Mulai Jum’at malam keluarga telah bersiap dan berjaga-jaga, bila memang akhirnya beliau dipanggil olehNya. Dan benarlah, ia akhirnya dipanggil oleh Sang Pemilik Kehidupan selasa dini hari tadi.

Tidak banyak yang saya ketahui tentang Ninik. Dan dari yang tidak banyak itu, kehebatan daya hidupnyalah yang paling memukau. Saat terakhir saya menjumpai beliau pada kamis siang, ia masih bisa berkomunikasi dengan sadar, bahkan berusaha mengambil air wudhu hingga sempat terjatuh. Hal yang sangat luar biasa pada usianya yang melebihi satu abad. Ya, umurnya melebihi 100 tahun. Perhitungan kasar kami bahkan memperkirakan usianya mencapai 114 tahun. Konon, ia telah memiliki anak saat Tuan Guru Pancor kembali dari Makkah, dan dari keduabelas anaknya, hanya tiga orang yang masih hidup saat ini.

Tidak hanya berumur panjang, secara fisik ia sangat sehat di masatuanya. Pernah ia membuat kami tercengang dengan tekanan darah yang menyaingi kami yang masih muda, 120/80 mmhg saat diperiksa oleh dokter. Ingatannya masih sangat kuat, dan ia mampu berkomunikasi dengan sangat baik. Saya mengingat ketika pertama kali dikenalkan oleh istri (3 tahun lalu). Saat itu, kami menanyakan apakah beliau sudah makan, dan sambil tersenyum ia menjawab, bahwa saat itu masih terlalu pagi untuk makan. Wajahnya masih bersih, dan garis-garis ketampanan itu masih terlihat dengan jelas, hal pertama yang dikomentari oleh Mama saat pertama kali dikenalkan. Yang paling luarbiasa dari seluruh hal tersebut, ia masih sanggup membaca mushaf al Qur’an tanpa menggunakan kacamata.

Dalam keluarga besar, mereka yang berumur diatas 70 tahun (bahkan 80) cukup banyak. Hal yang menarik dari mereka adalah, adanya beberapa orang yang tidak terserang pikun. Orangtua saya berhipotesa, bahwa salah satu aktivitas yang membantu mereka untuk tetap menjaga memori mereka tidak terdegradasi dengan cepat adalah hafalan qur’an mereka. Secara empiris pada keluarga saya, hal itu memang terbukti. Mereka yang tidak pikun memang mereka yang masih secara baik dan kuat mampu melaksanakan shalat, bahkan mengaji dengan rutin. Almarhum Papuq Mame dulu senantiasa mendendangkan surat-surat pada juz 30 baik ketika berbaring maupun berjalan-jalan di halaman rumah. Saat mampir ke rumah Baloq Nine, saya melihat beliau baru selesai menunaikan shalat dan sedang berdo’a. Papuq Jamaq bahkan sering menghabiskan maghrib hingga isya di masjid.
Well konon kepala memang harus bekerja, untuk menjaga agar ia tidak “rusak” dengan cepat saat umur mulai tua.

Hmmm… seketika saya menjadi rindu kembali melihat-lihat mushaf lama saya, menyingkirkan debu yang mulai melapisi covernya. Saya hadiahkan surat Yasin untukmu Ninik, semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan menyediakan tempat menunggu yang nyaman untukmu. Sekarang kami yang masih hidup ini akan mencoba meneladanimu, insya Allah.

Glosarium:
Ninik, Papuq = Kakek/Nenek
Baloq = Buyut
Mame = Laki

Written by wiendietry

27 Januari, 2009 at 20:00

Ditulis dalam daily life

Tagged with , ,