Catatan Acak | Random Notes

meski tak ada yang benar-benar acak

Posts Tagged ‘sasak

Dibalik arti Sasak Lebung

without comments

Beberapa hari yang lalu saya menanyakan arti “Sasak Lebung” ke mailing list Komunitas Sasak. Kebetulan saat itu ada semeton yang menggunakan istilah itu pada post-nya dan menggunakannya untuk menyebut mereka yang memaksakan segala hal dilombok haruslah “sasak”. Saya sendiri hampir tidak pernah lagi menggunakan istilah tersebut. Tapi dulu, ketika saya menduga bahwa istilah tersebut berarti “asli sasak” atau “tidak diragukan kesasakannya”, saya dan rekan-rekan sering menggunakannya untuk menegaskan kesasakan seseorang, atau bahkan diri saya sendiri (saya sempat menggunakan nick sasaclebunk di MIRC, dan menempel sticker bertuliskan kata yang sama di pintu kosan). Istilah itu kami anggap berarti bahwa seseorang adalah keturunan asli sasak, lahir besar di lombok, dan tentunya mahir berbahasa sasak. Tipikal rangkaian percakapan dimana kami kemudian memilih untuk menggunakan istilah tersebut biasanya seperti berikut ini.

A : “Lekan Lombok ke loq X?” (Si X orang lombok ya?)

B : “Iye wah, dengan lombok iye”. (Iya benar, dia orang lombok)

A : “Tao ke iye base sasak?” (Dia bisa berbahasa sasak?)

B : “Adooo, sasak lebung iye miq.” (Wah, dia sih jangan diragukan sasaknya)

Thus, karena merasa tidak pernah begitu mengerti baik arti istilah tersebut, dan apa yang ditawarkan semeron itu berbeda dengan apa yang selama ini samar-samar saya pahami, saya lantas menanyakannya ke mailing list, khususnya ke Tuaq Hazairin Junep yang memiliki kelebihan dalam urusan bahasa (ybs seorang polyglot, dari inggris, perancis, hingga rusia dan esperanto, plus pengetahuan mengenai bahasa sansekerta).

Benarlah, beberapa hari kemudian beliau menjawab pertanyaan tersebut secara tidak langsung dengan gaya khasnya, bercerita. Cerita yang ia mulai dengan sebuah percakapan antar pemuda yang ia dengar di Stasiun Tugu (YK) dan kemudian diakhiri dengan ulasan mengenai beberapa sebutan yang sering ditempelkan orang-orang sasak kepada rekan-rekannya.Sayang, saat tulisan ini saya publish, tulisan Tuaq Junep belum muncul di sasak.org, sehingga saya tidak bisa menyediakan linknya. (update 170209: tulisan dapat diakses di sini)

Khusus mengenai sasak lebung, beliau mengemukakan bahwa istilah ini merujuk pada karakter yang fanatik sehingga muncul sifat “pagah” namun rapuh hingga mudah diombang-ambingkan kemana saja oleh orang yang ia percayai. Beliau juga menyebutkan secara tidak langsung bahwa karakter ini sangat mudah dijumpai di tataran akar rumput bangsa sasak, dan bila dimanfaatkan dengan tepat, bisa diarahkan untuk kemajuan bangsa sasak.

Hmmm, penjelasan yang menarik Sasak lebung rupanya berkonotasi sangat negatif, dan saya sekarang harus berhati-hati dalam menggunakan istilah tersebut.

Glosarium

pagah = keras kepala, tapi tidak kritis

sasak = suku asli penghuni pulau lombok (well, istilah “suku asli” agak-agak kurang tepat sebenarnya)

Written by wiendietry

8 Februari, 2009 at 19:47

Ditulis dalam sasak

Ditandai dengan ,

Life is tough at the Selaparang airport

with 2 comments

Jan 7th 2009

Selaparang Airport Taxi DriverHis phone rang, its a woman who called him. First I thought it was his wife. But soon the way they had the conversation clearly proven that I had the wrong assumption. When he finished with the phone, he told me with a litle grin on his face.
Adooo, taokne jak seninente lalo jeri tkw, selekene demen-demen njorak ite” (translation: “she knows that my wife is working abroad, so she tries to take the chance (to flirt) with me”).
I forced myself to smile while silently cursing his habit and then we have a nice 75 mins long chit chat about his life, from Selaparang airport to Selong.
The stereotype
He told me about his education background. A common picture of many sasak people that live in his era (he is about 40s now). Drop off from junior high school due to lack of money from his parent to support him back in the days. Became a construction labour after quitting school and then get married. His wife was turned out to be sterile and then he decided to take a second wife. Got one son and one daughter from his second wife and then divorced due to her request (he said that her second wife cant live as a second wife, implying that she expected him to divorce his first, hmm…. ironic). Now, his  oldest kid is in junior high while his second is still in elementary school.
His job
Just been a taxi driver for four days. He told me that his previous job was a “solar” (diesel fuel) tank truck driver, a decent job with a good pay (he emphasised that). Then he got fired couple months ago due to striking with his friends as they tried to demand more ransom for his laid-off fellow driver. Instead of meeting their demands, they got fired, all of them. Unemployed, he went back to work as a construction labour. It was not an adequate source of living for his family, a situation that soon forced his wife to go working abroad since 4 months ago. His son was ashamed of his job and ask him to find a job as a driver, and there he is, a taxi driver at the airport.
How much money can he earn a day? He got 20% from the total money paid by his customers throughout the day. So if I paid the taxi services 210K for a journey from Selaparang to Selong, he’ll got 42 K just for delivering me. But a customer that is travelling that far using taxi (Selong-Selaparang is about 60 km, 75 mins driving) is  like a jackpot for him. Most of the time, throughout the day, he’ll only get 4 customers and all heading to Mataram which costs only 20K, means by the end of the day he’ll only got 16K.
His hopes
His life is sure tough, but quitting or even whining is not an option. Life can be harder, he proved and lived that. His simple hope was to make sure that all his kids is able to finish high school, and find a simple decent job like shopkeeper or such.

“So, which is it, of the favors of your lord that you deny?” (QS:55)

Written by wiendietry

31 Januari, 2009 at 21:55

Ditulis dalam cerita

Ditandai dengan , ,

Pepadu Sasak Lebung

with one comment

Pepadu Sasak Lebung
(Hazairin R Junep)
terjemahan bebas dari versi asli yang berbahasa sasak (lihat versi asli disini)

Pada suatu siang, seorang pemuda sasak sedang merebahkan badannya di tepi pantai dengan kail yang ia tancapkan didepannya. Bersantai ditemangi hangatnya cahaya matahari dan segarnya belaian angin laut. Betapa nikmat rasanya, sembari menunggu ikan melahap umpan.
Tidak lama kemudian, datanglah seorang pengusaha yang tinggal di kompleks rumah mewah ditepi pantai itu. Ia rupanya sedang mencoba menghilangkan penat dari pekerjaan, dengan menikmati berjalan di pantai tersebut. Pengusaha itu lantas melihat pemuda tadi yang dengan posisi santai sekali menopang dagunya sambil mengarahkan pandangan ke laut lepas. Ia lantas mendekati pemuda tersebut dan mencoba menanyakan kenapa pemuda tersebut tidak bekerja lebih keras agar bisa mendapatkan penghasilan yang layak.
Meton, bagaimana side bisa mendapatkan banyak ikan kalau bekerja seperti itu?” tanya pengusaha tersebut.
“Tentunya akan jauh lebih baik bekerja daripada tiduran disini”, ujarnya menyambung pertanyaan tadi.
Pemuda tersebut, masih dengan menopang dagunya, menoleh sembari tersenyum dan bertanya balik : “Terus apa untungnya kalau saya bekerja aneh?”.
Yaox, side bisa mendapatkan ikan banyak dengan bekerja keras kan?” Timpal si pengusaha.
“Terus apa untungnya dapat banyak ikan?” Kembali si pemuda bertanya kembali.
Side akan dapat banyak uang, dan mampu untuk membeli perahu untuk menangkap lebih banyak ikan lagi”
“Terus apa untungnya lagi?” Si pemuda terus mengejar.
Pengusaha tersebut mulai panas hatinya, gerah atas pertanyaan si pemuda yang kelakuannya menurutnya sangat tidak pantas.
Side bisa membeli kapal yang besar dan mempekerjakan banyak orang” pungkasnya.
“Terus apa untungnya lagi?” Si pemuda masih dengan pertanyaan yang sama.
Pengusaha tersebut tidak bisa lagi menahan amarahnya : Side bongoh sekali jadi orang! Side jadi bisa memiliki armada kapal nelayan yang besar, bersenang-senang keliling dunia dan cukup memerintahkan anakbuah untuk menangkap ikan!”
Dasar si pemuda memang sasak lebung, ia kembali bertanya : “Lantas untungnya apa?”
Merahlah muka si pengusaha, ia lantas menjawab dengan agak keras, : “Bodo sekali side ini! Side bisa kaya terus tidak perlu bekerja lagi! Menghabiskan seluruh hidup dengan bersantai di tepi pantai ini. Tidak perlu memperdulikan segala macam urusan dunia lagi!”
Pemuda tersebut lantas tersenyum, sembari sedikit mengangkat mukanya ia menjawab, ” Jari, menurut side saya sekarang ini lagi ngapain?”

keterangan istilah:
pepadu = pemuda, dalam sense yang sangat maskulin
meton/semeton = saudara
side = anda (sopan)
aneh = hayo, ayo
yaox = ungkapan untuk penegasan/penekanan
bongoh = polos (menghaluskan kata bodoh)
bodo = bodoh

Written by wiendietry

1 November, 2008 at 10:57

Ditulis dalam cerita

Ditandai dengan , , ,