Posts Tagged ‘keluarga’
Ninik, dan mereka yang kuat pada masatuanya
Ninik mertua saya meninggal tadi pagi. Sudah sejak kamis malam ia dibawa ke rumah sakit. Mulai Jum’at malam keluarga telah bersiap dan berjaga-jaga, bila memang akhirnya beliau dipanggil olehNya. Dan benarlah, ia akhirnya dipanggil oleh Sang Pemilik Kehidupan selasa dini hari tadi.
Tidak banyak yang saya ketahui tentang Ninik. Dan dari yang tidak banyak itu, kehebatan daya hidupnyalah yang paling memukau. Saat terakhir saya menjumpai beliau pada kamis siang, ia masih bisa berkomunikasi dengan sadar, bahkan berusaha mengambil air wudhu hingga sempat terjatuh. Hal yang sangat luar biasa pada usianya yang melebihi satu abad. Ya, umurnya melebihi 100 tahun. Perhitungan kasar kami bahkan memperkirakan usianya mencapai 114 tahun. Konon, ia telah memiliki anak saat Tuan Guru Pancor kembali dari Makkah, dan dari keduabelas anaknya, hanya tiga orang yang masih hidup saat ini.
Tidak hanya berumur panjang, secara fisik ia sangat sehat di masatuanya. Pernah ia membuat kami tercengang dengan tekanan darah yang menyaingi kami yang masih muda, 120/80 mmhg saat diperiksa oleh dokter. Ingatannya masih sangat kuat, dan ia mampu berkomunikasi dengan sangat baik. Saya mengingat ketika pertama kali dikenalkan oleh istri (3 tahun lalu). Saat itu, kami menanyakan apakah beliau sudah makan, dan sambil tersenyum ia menjawab, bahwa saat itu masih terlalu pagi untuk makan. Wajahnya masih bersih, dan garis-garis ketampanan itu masih terlihat dengan jelas, hal pertama yang dikomentari oleh Mama saat pertama kali dikenalkan. Yang paling luarbiasa dari seluruh hal tersebut, ia masih sanggup membaca mushaf al Qur’an tanpa menggunakan kacamata.
Dalam keluarga besar, mereka yang berumur diatas 70 tahun (bahkan 80) cukup banyak. Hal yang menarik dari mereka adalah, adanya beberapa orang yang tidak terserang pikun. Orangtua saya berhipotesa, bahwa salah satu aktivitas yang membantu mereka untuk tetap menjaga memori mereka tidak terdegradasi dengan cepat adalah hafalan qur’an mereka. Secara empiris pada keluarga saya, hal itu memang terbukti. Mereka yang tidak pikun memang mereka yang masih secara baik dan kuat mampu melaksanakan shalat, bahkan mengaji dengan rutin. Almarhum Papuq Mame dulu senantiasa mendendangkan surat-surat pada juz 30 baik ketika berbaring maupun berjalan-jalan di halaman rumah. Saat mampir ke rumah Baloq Nine, saya melihat beliau baru selesai menunaikan shalat dan sedang berdo’a. Papuq Jamaq bahkan sering menghabiskan maghrib hingga isya di masjid.
Well konon kepala memang harus bekerja, untuk menjaga agar ia tidak “rusak” dengan cepat saat umur mulai tua.
Hmmm… seketika saya menjadi rindu kembali melihat-lihat mushaf lama saya, menyingkirkan debu yang mulai melapisi covernya. Saya hadiahkan surat Yasin untukmu Ninik, semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan menyediakan tempat menunggu yang nyaman untukmu. Sekarang kami yang masih hidup ini akan mencoba meneladanimu, insya Allah.
Glosarium:
Ninik, Papuq = Kakek/Nenek
Baloq = Buyut
Mame = Laki