Posts Tagged ‘ide’
Dicari : Fitur hoax filter untuk layanan email!
A hoax is a deliberate attempt to dupe, deceive or trick an audience into believing, or accepting, that something is real, when in fact it is not; or that something is true, when in fact it is false. In an instance of a hoax, an object, or event, is not what it appears to be, or what it is claimed to be (Wikipedia)
Beberapa minggu ini saya memperhatikan kalau ternyata banyak sekali email dari rekan-rekan saya yang kebetulan merupakan email terusan (forward) dari rekan-rekan mereka, dan isinya kebetulan berupa hoax . Isinya sangat beragam. Mulai dari hoax terbakar misteriusnya pelaku karikatur Rasulullah SAW di Denmark, hingga yang terakhir adalah praktik bonsai-kitten, yang konon dilakukan di Jepang sana dengan memelihara hewan di dalam botol agar bentuknya menyerupai medium botol tersebut. Masalahnya adalah, sudah kebiasaan sebagian besar orang untuk tidak bersikap “kritis” akan email-email hoax tersebut. Asalkan substansinya menarik, atau menyentuh isu yang sensitif, dan mereka kebetulan setuju dengan apa yang disampaikan pada email tersebut, mereka tidak akan bersusahpayah untuk mencari tahu kebenaran isi email dan langsung mengklik tombol “forward to all”, yang akibatnya memperpanjang rantai peredaran hoax tadi. Alhasil saya seringkali tersenyum-senyum sendiri melihat email hoax yang masuk, bahkan pernah saya menjumpai email hoax yang sama pernah masuk juga beberapa tahun sebelumnya. Waktu hidup cerita-cerita hoax rupanya cukup lama.
Hoax religius
Sadly, yang paling sering tentu email yang ada kaitannya dengan hal religius. Saya masih ingat dulu beberapa email masuk yang melampirkan suara orang di siksa dari bawah tanah, yang didengar oleh para penambang minyak di Rusia sana. Suara-suara tersebut kemudian dihubungkan dengan suara mereka yang disiksa di dalam kuburnya akibat dosa-dosa mereka. Cerita yang tentu saja hoax ini kebetulan saya jumpai dalam beberapa versi, baik versi narasi maupun versi agama (kadang-kadang Islam, kadang-kadang Kristen, dst)
. Sepertinya bila mengatasnamakan kekuasaaan Tuhan, orang entah merasa takut tidak menyebarkan, atau merasa berkewajiban menyebarkan, tanpa memikirkan bahwa bisa saja isi email tersebut hanya rekaan beberapa orang iseng.
Hoax fenomena/tradisi aneh
Yang juga sering diforward tanpa diverifikasi adalah email hoax yang menyangkut fenomena aneh atau unik di tempat tertentu. Mungkin sebagian besar dari kita telah mendapatkan email tentang sup bayi yang konon dijual di taiwan sebagai diet penambah tenaga. Praktik membonsai kucing seperti saya sempat singung di awal. Dan yang terakhir, ramalan mengenai matahari yang akan bersinar terus-terusan selama 3 hari (lah emang matahari pernah berhenti bersinar?
). Dengan sedikit effort, mestinya akan ketahuan bahwa cerita-cerita tersebut palsu adanya. (catatan : salah seorang anggota kongres amerika pernah terkena jebakan hoax sup bayi)
Hoax untuk membunuh pesaing
Hoax lain yang juga sering kita jumpai muncul atas nama persaingan bisnis. Saya masih ingat Mizone yang berusaha dibunuh hanya karena “alpa” mencantumkan bahwa mereka memakai pengawet. Mungkin benar kalau itu adalah bentuk kebohongan publik, namun yang menarik, email2 yang berseliweran dibumbui dengan cerita seram seputar penyakit Lupus yang tentu saja tidak terlalu relevan dengan Mizone. Terakhir tentu saja tentang Oreo. Seiring terimbasnya OREO oleh skandal melanin pada susu bayi, tiba-tiba muncul berita tentang OREO busuk yang ada ulatnya. Coincidence? Buat saya terlalu smelly, lebih mudah kalau percaya itu semi-Hoax yang ditujukan untuk menyerang produk oreo,
Memotong lingkaran Hoax.
Lantas apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi fenomena ini? Well, kalau mengharapkan ‘kesadaran’ individu untuk melakukan cross check setiap email ‘aneh’ yang masuk tentu sangat tidak mungkin. Ga ada waktu tentunya. Apalagi segala sesuatu yang diserahkan kembali ke “individunya” biasanya tidak berujung perbaikan, CMIIW
. Kita manusia memang cenderung ignorant. Kritis terhadap suatu isu hanya kalau kebetulan memiliki wawasan lebih atas isu tersebut. So, mengharapkan diri kita sendiri bukan alternatif yang baik
. Untuk hal ini mungkin komputer yang mati rasa dapat membantu kita. Kalau selama ini mail server dapat mengenali spam, tidaklah terlalu rumit jika kemudian mereka juga diberikan kapabilitas untuk mengenali hoax. We just need to supply the hoax database and the inference engine. Semoga ada mahasiswa S1 yang membaca tulisan ini dan tertarik mencobanya untuk tugas akhir. (Sigh!).
pranala menarik : http://www.museumofhoaxes.com/hoax/hoaxipedia