Hampir tertinggal pesawat
Sabtu 7 Maret 2009,
Hari itu saya mendapatkan beberapa pelajaran berharga sekaligus.
Hari itu saya kebetulan akan berangkat menuju Lombok dengan menggunakan pesawat Garuda Airlines GA-432 melalui Jakarta dengan jadwal keberangkatan pukul 17.40 WIB. Untuk mencapai bandara Soekarno-Hatta dari Bandung, saya memesan tiket Bus Primajasa dengan keberangkatan pukul 13.00 dari BSM. Berdasarkan pengalaman saya dalam beberapa perjalanan, rata-rata perjalanan bus dari BSM ke Cengkareng adalah 3 jam perjalanan. Jadi saya menyediakan spare waktu 1 jam lebih untuk keadaan tidak terduga di jalan, spare waktu yang ternyata hampir terkuras habis pada hari itu.
Kesalahan pertama saya pada hari itu adalah saat memesan taksi untuk keberangkatan dari daerah cigadung ke BSM. Saya memesan Taksi Gemah Ripah untuk pukul 12.00 pada pukul 11.00 dan kemudian diminta mengkonfirmasi lagi setengah jam kemudian. Saat saya konfirmasi 40 menit kemudian, belum ada armada taksi tersebut yang mau melayani pesanan saya. Saya mencoba dua kali dalam kurun waktu 15 menit, tapi hasilnya tetap nihil. Lantas saya kemudian ganti menelpon Blue Bird -hal yang seharusnya saya lakukan sejak awal- , operator diseberang mengabarkan bahwa jika tidak ada armada yang menanggapi dalam 5 menit, saya akan dikabari oleh mereka (perbedaan SOP pelayanan yang tentunya sangat membantu saya). Meski demikian, saya tetap menelpon Blue Bird 5 menit kemudian dan mendapatkan kabar bahwa taksi yang akan menjemput saya sudah dalam perjalanan. Benarlah, sekitar jam 12.15 taxi pesanan saya tiba.
Kesalahan kedua saya adalah memilih rute dan kalkulasi waktu dari Cigadung ke BSM. Saya biasanya berangkat dengan penerbangan pagi, sehingga praktis saya harus berangkat dari Bandung pagi-pagi sekali setelah subuh. Biasanya dengan rute Pahlawan-Katamso saya dapat sampai di BSM dalam waktu 20 menit. Saat itu siang hari, dan hari sabtu. Saya menghabiskan waktu 45 menit hanya untuk menembus kemacetan antara Pahlawan-Katamso, dan sampai di BSM pukul 13.20. Telat 20 menit dari tiket bus saya. Untungnya saya masih sempat berangkat dengan bus pukul 13.30 dengan membayar denda sebesar 15 ribu.
Kesalahan ketiga adalah asumsi bahwa perjalanan BSM-CGK hanya akan menyita waktu selama 3 atau maksimal 3,5 jam . Sekali lagi ini hari sabtu long weekend pada siang bolong, hanya untuk mencapai pintu tol dari BSM, bus yang saya tumpangi sudah menghabiskan waktu 40 menit. Sayapun mulai ketar-ketir. Dengan asumsi perjalanan menghabiskan waktu 4 jam -sebagaimana sempat diutarakan penumpang lain di belakang saya-, saya akan tiba di Bandara pada pukul 17.30, 10 menit sebelum keberangkatan pesawat saya. Dan mestinya, jika benar saya tiba pada waktu tersebut, petugas check-in tidak perlu melayani saya. Sampai di sekitar Bekasi, saya semakin panik di dalam hati (secara fisik yang terlihat hanya gerakan garuk-garuk kepala yang kebetulan baru saja dicukur habis). Kami terperangkap macet parah selama lebih dari setengah jam akibat kombinasi pelebaran ruas jalan dan kecelakaan kendaraan di daerah itu. Memasuki gerbang tol bandara, jam di bus sudah menunjukkan pukul 17.15. Saya makin pasrah, namun tidak ingin begitu saja menyerah. Saya lantas bangkit dari tempat duduk dan menanyakan jam keberangkatan pesawat semua penumpang di bus. Mereka ternyata berangkat paling cepat pada pukul 18.00. Saya kemudian meminta ijin dari mereka agar bus terlebih dahulu mampir di terminal II. Alhamdulillah mereka semua mengijinkan.
Singkat cerita (bagian lari tergopoh-gopoh diskip), saya tiba di depan check-in counter kira-kira 10 menit sebelum pesawat berangkat. Check-in counter untuk GA-432 pada saat itu sudah ditutup dan penumpang sudah mulai boarding ke dalam pesawat. Seharusnya menurut peraturan yang tertera pada tiket, pihak maskapai mensyaratkan saya tiba di counter check-in 45 menit sebelum keberangkatan. Jadi tidak ada kewajiban petugas disana untuk melayani saya. Saya sudah agak pasrah saat itu, dan akan sangat maklum jika akhirnya saya ditolak untuk check-in. Namun ternyata begitu mengatakan penumpang tujuan AMI pada check-in counter yang kebetulan sebenarnya sedang tidak diassign untuk melayani penumpang, bukan perdebatan dan muka masam yang saya dapatkan, melainkan sikap sigap dari petugas yang langsung meminta tiket dan bagasi saya untuk diproses. Saya sangat lega dan segera bergegas menuju ruang tunggu dan masuk ke pesawat. Di atas pesawat saya baru memperhatikan, ternyata saya diberikan seat kelas eksekutif. Saya lantas melakukan konfirmasi kepada purser yang bertugas saat itu karena khawatir ada kesalahan, tapi ternyata memang karena seat kelas ekonomi telah penuh saya diberikan upgrade ke seat kosong di kelas eksekutif.
Saya lantas duduk, dan teringat bahwa saya belum shalat ashar. Saat beberapa penumpang masih mengantri untuk masuk, saya kemudian menunaikan shalat sembari duduk. Begitu leganya saya saat itu. Dalam hati saya mengucapkan syukur. Sembari tersenyum, saya teringat ketika masih di Bus dan mulai panik, namun lantas menenangkan diri dan berucap dalam hati, “Sesungguhnya aku tak pernah berburuk sangka padaMu”.
Terimakasih pada Blue Bird
Terimakasih pada seluruh penumpang primajasa BSM-CGK 13.30 7 Maret 2009
Terimakasih pada Garuda Indonesia (saya sudah tulis surat pembaca di detik, sayang sepertinya ga lulus sensor, muji-muji seh)
Sekali lagi, Alhamdulillah
biasa lah… last minute man
vicky
21 Maret, 2009 at 16:22
wuihhhhhh…
Pasti deg2an banget ya??
nazar
25 Maret, 2009 at 16:16